Easy Travel Asia – Bakso Eso menawarkan sensasi berbeda lewat usus sapi dan tetelan yang membuat kuliner legendaris Bali ini terus diburu pelanggan. Bakso Eso menghadirkan kuliner unik dari Pasar Baturiti, Tabanan, Bali, dengan tambahan eso atau usus sapi sebagai pelengkap utama. Warung ini mempertahankan racikan bakso keluarga sejak 1965 dan terus melayani pelanggan hingga sekarang. I Wayan Sukarya memulai usaha tersebut ketika masih remaja dengan gerobak keliling di sekitar Pasar Baturiti. Ia kemudian menetap di Baturiti setelah menikah dan mengembangkan usaha bakso bersama keluarganya.
Kini, putri sulungnya, Ni Luh Suryantini, bersama suami dan anak-anaknya melanjutkan usaha keluarga tersebut. Suryantini tetap menjaga kombinasi bakso sapi, usus sapi, dan tetelan yang menjadi ciri khas menu. Tambahan bubur juga memberikan tekstur serta sensasi berbeda dalam satu mangkuk. Pelanggan dapat menikmati hidangan tersebut dengan cita rasa yang tetap mengikuti resep keluarga. Keunikan eso membuat Bakso Eso memiliki identitas tersendiri dibandingkan sajian bakso yang biasanya menggunakan tetelan sebagai pelengkap.
Warung Keluarga Ini Menjaga Resep Bakso Sejak 1965

Perjalanan Bakso Eso bermula ketika I Wayan Sukarya merantau dari Marga, Tabanan, menuju Baturiti saat masih remaja. Sukarya kemudian menikah dan menetap di kawasan tersebut sambil mengembangkan usaha bakso. Pada masa awal, ia menggunakan gerobak untuk menjajakan bakso kepada masyarakat sekitar Pasar Baturiti. Harga satu porsi saat itu hanya Rp5. Seiring perubahan zaman, usaha keluarga tersebut terus berkembang dan menarik pelanggan dari berbagai kalangan. Suryantini bersama adiknya, Ni Kade Suryaningsih, kini melanjutkan usaha yang pernah dirintis ayah mereka. Keduanya menjaga resep warisan keluarga agar cita rasa Bakso Eso tetap konsisten. Suryantini juga menyesuaikan menu dengan kebutuhan pelanggan tanpa menghilangkan ciri khas utama. Selain bakso sapi dengan usus dan tetelan, ia menawarkan bakso ayam bagi pelanggan yang menginginkan pilihan berbeda. Perjalanan lebih dari enam dekade menunjukkan bagaimana keluarga tersebut menjaga usaha kuliner tradisional sambil mengikuti perubahan selera masyarakat.
Harga Terjangkau Membuat Bakso Eso Tetap Menarik Pelanggan

Bakso Eso kini menawarkan satu porsi dengan harga Rp20 ribu. Harga tersebut memberikan kesempatan bagi pelanggan untuk menikmati bakso sapi dengan usus dan tetelan tanpa perlu mengeluarkan biaya besar. Perbedaan harga dari masa awal usaha hingga sekarang juga menunjukkan perubahan ekonomi selama puluhan tahun. Pada 1965, Sukarya hanya mematok Rp5 untuk satu porsi bakso. Kini, Suryantini mempertahankan konsep makanan yang sederhana tetapi memiliki ciri khas kuat. Pelanggan dapat memilih bakso sapi dengan eso dan tetelan atau mencoba varian bakso ayam. Tambahan bubur juga menjadi salah satu elemen menarik yang membedakan sajian tersebut dari bakso pada umumnya. Suryantini menjaga kualitas bahan dengan mengambil pasokan daging dari wilayah Buleleng dan Denpasar. Setiap hari, ia menggunakan sekitar lima kilogram daging sapi dan ayam untuk memenuhi kebutuhan produksi. Penggunaan bahan segar membantu keluarga mempertahankan cita rasa yang sudah mereka kenalkan kepada pelanggan selama puluhan tahun.
Jam Operasional Bakso Eso Terbagi dalam Dua Lokasi
Pelanggan dapat menikmati Bakso Eso pada pagi hari di area Pasar Baturiti. Warung melayani pembeli setiap pagi hingga pukul 11.00 Wita. Setelah jam tersebut, pelanggan dapat melanjutkan perjalanan menuju warung yang berada di sebelah selatan Pasar Baturiti. Lokasi kedua melayani pembeli mulai pukul 12.00 hingga 18.00 Wita. Pembagian waktu tersebut membantu keluarga menjaga pelayanan sekaligus memenuhi kebutuhan pelanggan sepanjang hari. Aktivitas produksi membutuhkan persiapan bahan yang cukup besar karena Suryantini menggunakan sekitar lima kilogram daging sapi dan ayam setiap hari. Ia memperoleh bahan baku dari pemasok di Buleleng dan Denpasar untuk menjaga kualitas daging. Pelanggan yang ingin mencoba menu khas ini dapat menyesuaikan kunjungan berdasarkan jam operasional tersebut. Pagi hari cocok bagi pengunjung yang ingin menikmati bakso langsung di kawasan pasar. Sementara itu, warung sebelah selatan Pasar Baturiti memberikan pilihan bagi pelanggan yang datang setelah aktivitas pasar mulai berkurang.
Bakso Eso Menjadi Warisan Kuliner Keluarga di Bali
Perjalanan Bakso Eso menunjukkan bagaimana sebuah usaha sederhana dapat bertahan melewati perubahan zaman. Sukarya memulai usaha dengan gerobak keliling, lalu keluarganya mengembangkan usaha tersebut hingga mampu melayani pelanggan selama lebih dari enam dekade. Suryantini kini memegang peran penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis keluarga bersama suami, anak-anak, dan adiknya. Ia tidak hanya mempertahankan menu bakso sapi dengan eso dan tetelan, tetapi juga menyediakan bakso ayam untuk memperluas pilihan pelanggan. Resep keluarga tetap menjadi dasar utama dalam menjaga karakter rasa. Ketersediaan bahan baku dari Buleleng dan Denpasar juga membantu keluarga menjaga kebutuhan produksi harian. Dengan harga Rp20 ribu per porsi, pelanggan masih dapat menikmati hidangan khas yang memiliki sejarah panjang di Baturiti. Keunikan penggunaan usus sapi membuat Bakso Eso memiliki daya tarik tersendiri bagi pencinta kuliner tradisional. Warung ini juga memperlihatkan bagaimana keluarga dapat menjaga warisan kuliner melalui resep, pelayanan, dan konsistensi rasa dari satu generasi ke generasi berikutnya.

