Easy Travel Asia – Camino de Flores menghadirkan konsep wisata religi yang berbeda dari perjalanan wisata pada umumnya di Flores. Kementerian Pariwisata bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) meluncurkan program ini sebagai adaptasi tren perjalanan jalan kaki Camino de Santiago di Spanyol. Program tersebut menggabungkan ziarah, pengalaman budaya, keindahan alam, serta aksi sosial untuk membantu masyarakat setempat. Melalui konsep Flores Walk, peserta berjalan kaki melewati gereja, desa wisata, dan berbagai lanskap khas Pulau Flores tanpa mengandalkan kendaraan sebagai sarana utama perjalanan. Proyek percontohan Etape Tengah akan berlangsung pada 23 hingga 27 Oktober 2026 dengan rute Bajawa, Nagekeo, hingga Ende. Perjalanan sepanjang kurang lebih 70 kilometer ini juga membuka peluang bagi wisatawan untuk mengenal kehidupan masyarakat Flores secara lebih dekat.
Camino de Flores Menghadirkan Wisata Religi dengan Pengalaman Berbeda

Camino de Flores menawarkan pengalaman perjalanan yang memadukan aktivitas fisik, refleksi spiritual, pengenalan budaya, dan kepedulian sosial. Kementerian Pariwisata bersama BPOLBF mengembangkan program ini dengan mengambil inspirasi dari Camino de Santiago, jalur ziarah terkenal di Spanyol. Namun, program di Flores menghadirkan karakter tersendiri melalui kekayaan alam, tradisi masyarakat, serta kehidupan komunitas Katolik setempat. Peserta tidak sekadar mendatangi destinasi wisata menggunakan kendaraan, tetapi berjalan kaki untuk menghubungkan berbagai tempat yang memiliki nilai religi dan budaya. Konsep Flores Walk juga memberi kesempatan kepada wisatawan untuk menikmati perjalanan secara perlahan, mengamati lingkungan sekitar, dan berinteraksi langsung dengan warga desa. Penyelenggara memilih pendekatan tersebut agar perjalanan tidak hanya berfokus pada tujuan akhir, tetapi juga menghadirkan makna sepanjang rute. Melalui kegiatan ini, Flores berpeluang memperkenalkan bentuk wisata yang menggabungkan perjalanan jasmani dengan perenungan batin sekaligus memperkuat hubungan wisatawan dengan masyarakat lokal.
Rute Camino de Flores Membentang 70 Kilometer dari Bajawa hingga Ende

Proyek percontohan Camino de Flores akan berlangsung pada 23 hingga 27 Oktober 2026 dengan mengambil rute Bajawa, Nagekeo, hingga Ende. Perjalanan Etape Tengah tersebut membentang sekitar 70 kilometer dan mengajak peserta melintasi kawasan dengan karakter alam yang beragam. Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menjelaskan bahwa 70 peserta telah membeli paket perjalanan untuk mengikuti kegiatan perdana ini. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan akan memulai perjalanan dari Jakarta. Peserta juga memiliki rentang usia yang cukup lebar, mulai dari 30 hingga 70 tahun. Kondisi tersebut membuat penyelenggara perlu memperhatikan kemampuan fisik setiap orang selama perjalanan. Panitia menyiapkan ambulans serta tim kesehatan yang mendampingi peserta dari belakang. Jika seseorang merasa tidak sanggup melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, panitia menyediakan kendaraan untuk membantunya melewati bagian rute tertentu sebelum kembali berjalan. Persiapan ini membantu peserta mengikuti perjalanan dengan perhatian terhadap keselamatan dan kondisi tubuh masing-masing.
Menyusuri Gereja, Desa Wisata, dan Lanskap Alam Flores
Sepanjang rute Bajawa hingga Ende, peserta akan menjumpai lanskap alam Flores sekaligus berbagai lokasi yang memiliki nilai spiritual dan budaya. BPOLBF merancang perjalanan dengan mempertimbangkan topografi yang naik turun, sehingga pengalaman berjalan kaki memiliki tantangan tersendiri. Andhy menjelaskan bahwa karakter medan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pemilihan rute karena memiliki kemiripan dengan jalur Camino di Spanyol dan Amerika Selatan. Untuk membantu peserta mengenali arah perjalanan, penyelenggara berencana memasang rambu penunjuk atau signage pada jalur yang dilalui. Panitia juga merencanakan 11 titik perhentian sepanjang perjalanan, dengan sebagian besar lokasi berada di gereja-gereja Katolik. Titik-titik tersebut memberi ruang bagi peserta untuk beristirahat sekaligus menjalankan refleksi spiritual. Konsep perjalanan ini juga mengingatkan pada praktik Via Dolorosa, yaitu perjalanan yang mengajak umat merenungkan pengalaman spiritual melalui langkah demi langkah. Dengan demikian, peserta dapat menggabungkan kegiatan fisik, penghayatan iman, serta pengenalan terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat Flores.
Camino de Flores Membuka Peluang Ekonomi bagi Masyarakat Lokal
Selain menawarkan perjalanan spiritual, Camino de Flores membawa misi sosial untuk membantu masyarakat dan mendukung pemulihan Flores setelah gempa bumi. Menurut Andhy, dana dari 70 peserta akan membantu renovasi rumah sakit dan gereja, pengembangan sarana budaya dan pariwisata, serta penyediaan sanitasi dan air bersih. Rute yang melewati desa-desa juga membuka peluang ekonomi bagi pemilik homestay, pelaku UMKM, perajin tenun ikat, dan pemandu wisata. Melalui program ini, wisatawan dapat mengenal kehidupan masyarakat Flores sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
Pengembangan Etape Barat dan Timur Memperluas Wisata Jalan Kaki
BPOLBF berencana mengembangkan jaringan perjalanan Camino di Flores melalui dua jalur tambahan setelah pelaksanaan proyek percontohan Etape Tengah. Rencana Etape Barat akan menghubungkan Labuan Bajo dengan Ruteng, sedangkan Etape Timur akan menghubungkan Maumere dengan Larantuka. Pengembangan tersebut berpotensi membentuk jaringan wisata jalan kaki yang menjangkau lebih banyak wilayah di Pulau Flores. Wisatawan nantinya dapat mengenal berbagai karakter destinasi, mulai dari lanskap alam hingga kehidupan budaya dan tradisi keagamaan masyarakat setempat.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, berharap wisata religi ini berkembang ke pulau lain melalui konsep Camino de NTT, dengan rute khas Flores, Timor, dan Sumba. Pengembangan ini dapat memperkenalkan kekayaan alam dan budaya sekaligus memperluas pilihan wisata jalan kaki di Nusa Tenggara Timur.
