Easy Travel Asia – Rumah Tjong A Fie bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga menyimpan perjalanan panjang seorang perantau asal Tiongkok yang berhasil membangun kejayaan di Tanah Deli. Kemegahan arsitektur, koleksi benda antik, hingga foto keluarga menghiasi setiap sudut rumah ini. Pengunjung bisa melihat langsung jejak kehidupan Tjong A Fie sekaligus mengenal perkembangan Kota Medan pada masa lampau. Menariknya, rumah tersebut juga menyimpan pesan kehidupan dari sang pemilik melalui sebuah surat wasiat yang berisi lima nasihat penting. Tidak heran jika bangunan ini menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin mengenal sejarah Medan lebih dekat.
Rumah Tjong A Fie Menyimpan Kisah Perantau Tiongkok yang Meraih Kesuksesan

Kisah Rumah Tjong A Fie tidak bisa lepas dari perjalanan hidup seorang pengusaha asal Guangdong, Tiongkok. Tjong A Fie lahir di Mexian pada 1860 dan merantau ke Tanah Deli ketika berusia sekitar 20 tahun. Ia mengikuti jejak kakaknya yang lebih dahulu mencari kehidupan di Sumatera. Saat tiba di pelabuhan Deli, Tjong A Fie hanya membawa sedikit uang. Kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah untuk mencari penghidupan. Ia menjalani berbagai pekerjaan serabutan sebelum akhirnya merintis usaha perkebunan. Kerja kerasnya perlahan membuahkan hasil hingga ia berhasil mengembangkan perkebunan luas di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Usahanya bahkan mampu menyerap lebih dari 10 ribu pekerja. Keberhasilan tersebut mengantarkan Tjong A Fie sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat Medan pada masanya.
Berdiri Megah di Kawasan Bersejarah Kota Medan

Rumah Tjong A Fie berada di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Sumatera Utara. Bangunan bersejarah ini memulai pembangunan pada 1895 dan berdiri pada 1900. Seiring perjalanan waktu, rumah tersebut tidak hanya menyimpan kenangan keluarga Tjong A Fie, tetapi juga menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat Medan pada masa lampau. Pengelola membuka rumah ini untuk umum pada 18 Juni 2009, bertepatan dengan peringatan ulang tahun Tjong A Fie yang ke-150. Sejak saat itu, pengunjung bisa menjelajahi berbagai ruangan dan melihat koleksi peninggalan keluarga sang pengusaha. Lokasinya di kawasan pusat kota juga memudahkan wisatawan untuk memasukkan museum ini ke dalam agenda perjalanan mereka. Pada 2015, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menetapkan bangunan tersebut sebagai cagar budaya. Status itu semakin memperkuat nilai sejarah dan daya tariknya sebagai destinasi wisata edukatif.
Interior Rumah Menampilkan Perpaduan Budaya dan Koleksi Antik
Kemegahan rumah ini tidak hanya terlihat dari bentuk bangunannya, tetapi juga dari berbagai koleksi yang menghiasi bagian dalam. Pengunjung dapat menemukan kursi, meja, guci, telepon, piano, serta beragam benda antik yang masih tersusun rapi. Pada pintu utama, terdapat tulisan aksara kanji yang memperlihatkan pengaruh budaya Tionghoa. Dinding rumah juga menampilkan foto Tjong A Fie bersama anggota keluarganya, lengkap dengan sejumlah dokumen lama yang menggambarkan perjalanan sejarah Kota Medan. Menariknya, sekitar 80 persen isi rumah masih mempertahankan keaslian koleksi dari masa lalu. Kondisi tersebut memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung yang ingin melihat langsung suasana kediaman keluarga terpandang pada zamannya. Setiap benda seolah menyimpan cerita tersendiri, mulai dari kebiasaan keluarga hingga hubungan sosial Tjong A Fie dengan berbagai kalangan masyarakat. Perpaduan unsur budaya Tionghoa, Melayu, dan Eropa turut memperkaya karakter bangunan ini.
Empat Ruang Tamu Menunjukkan Luasnya Hubungan Sosial Tjong A Fie
Rumah megah ini memiliki empat ruang tamu dan tiga kamar tidur yang mencerminkan kehidupan sosial pemiliknya. Salah satu ruang tamu secara khusus melayani kunjungan Sultan Deli. Selain ruangan tersebut, keluarga Tjong A Fie juga menyediakan ruang untuk menyambut tamu Belanda, tamu Tionghoa, serta pengunjung dari kalangan umum. Pembagian ruang itu memperlihatkan luasnya hubungan Tjong A Fie dengan berbagai kelompok masyarakat di Medan. Ia tidak hanya membangun hubungan dengan komunitas asalnya, tetapi juga menjalin kedekatan dengan masyarakat Melayu dan kalangan lainnya. Sikap tersebut sejalan dengan reputasinya sebagai sosok dermawan yang gemar membantu warga kurang mampu. Tjong A Fie juga menunjukkan rasa hormat terhadap masyarakat Muslim dan ikut mendukung pembangunan tempat ibadah, termasuk Masjid Raya Al-Mashun serta Masjid Gang Bengkok. Kisah tersebut memperlihatkan bahwa kesuksesan bisnisnya berjalan beriringan dengan kepedulian sosial.
Surat Wasiat Tjong A Fie Mengajarkan Kepedulian Tanpa Memandang Golongan
Selain menyimpan koleksi bersejarah, rumah ini juga menghadirkan pesan kehidupan melalui sebuah surat wasiat Tjong A Fie. Dokumen tersebut memuat lima pesan penting yang menekankan kepedulian terhadap sesama manusia. Salah satu pesannya meminta keturunannya untuk rutin memberikan sedekah kepada orang miskin tanpa membedakan suku maupun golongan. Ia juga mengingatkan keluarga agar membantu orang sakit dan mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Pesan tersebut mencerminkan nilai kemanusiaan yang Tjong A Fie pegang sepanjang hidupnya. Ia wafat pada 1921 dan meninggalkan jejak panjang dalam sejarah Kota Medan. Makamnya berada di kawasan Pulo Brayan, Kecamatan Medan Barat, Sumatera Utara. Kini, museum yang menyandang namanya menarik perhatian ratusan wisatawan setiap hari. Pengunjung dari berbagai daerah bahkan mancanegara datang untuk mengenal sosoknya, menikmati arsitektur rumah, serta mempelajari sejarah perkembangan masyarakat Medan.
