Mengungkap Akhir Hidup Soekarno: Dari Lengser hingga Dimakamkan di Blitar oleh Soeharto

Mengungkap Akhir Hidup Soekarno: Dari Lengser hingga Dimakamkan di Blitar oleh Soeharto

Easy Travel Asia – Akhir Hidup Soekarno menyimpan kisah penuh tekanan politik, kesehatan memburuk, hingga keputusan tentang tempat peristirahatan terakhirnya. Presiden pertama Indonesia itu meninggal pada 21 Juni 1970 di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, dalam usia 69 tahun. Perjalanan menuju akhir hayatnya bermula setelah kekuasaannya meredup pasca-G30S 1965. Tekanan politik semakin kuat ketika mahasiswa dan kelompok masyarakat menuntut perubahan pemerintahan. Situasi tersebut kemudian melahirkan Tritura pada Januari 1966. Gelombang demonstrasi dan dukungan sebagian tentara semakin mempersempit ruang politik Soekarno. Pada 11 Maret 1966, Soekarno menandatangani Supersemar yang memberikan kewenangan tertentu kepada Letjen Soeharto. Perkembangan politik setelah itu semakin mengurangi pengaruh Soekarno. MPRS kemudian mencabut status presiden seumur hidupnya pada 1967. Soekarno meninggalkan Istana Negara dan menjalani kehidupan dengan pengawasan ketat. Kondisi kesehatan yang terus menurun akhirnya membuatnya menjalani perawatan di RSPAD. Setelah wafat, Soeharto menentukan lokasi pemakaman Soekarno di Blitar, Jawa Timur.

Akhir Hidup Soekarno Berawal dari Tekanan Politik Pasca-G30S

Mengungkap Akhir Hidup Soekarno: Dari Lengser hingga Dimakamkan di Blitar oleh Soeharto

Akhir Hidup Soekarno mulai memasuki fase sulit setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 mengguncang politik Indonesia. Peristiwa tersebut menewaskan sejumlah perwira Angkatan Darat dan memicu gelombang ketegangan nasional. Narasi yang berkembang saat itu menempatkan PKI sebagai pihak utama yang bertanggung jawab atas G30S. Kedekatan politik Soekarno dengan PKI turut membuat posisi presiden semakin sulit. Soekarno menyatakan bahwa hanya sejumlah anggota PKI yang bertindak dalam peristiwa tersebut, bukan organisasi secara keseluruhan. Pernyataan itu tidak mampu meredakan kemarahan masyarakat. Mahasiswa kemudian menggelar berbagai demonstrasi dan menuntut pemerintah mengambil tindakan tegas. Pada Januari 1966, Front Pancasila menyampaikan Tritura yang berisi pembubaran PKI, pembersihan kabinet, serta penurunan harga. Gelombang aksi tersebut terus berkembang hingga mencapai puncak pada Maret 1966. Situasi politik kemudian mendorong Soekarno memberikan Supersemar kepada Letjen Soeharto. Surat tersebut memberi Soeharto kewenangan mengambil tindakan untuk menjaga keamanan pemerintahan. Perkembangan setelah Supersemar semakin mengurangi kekuasaan politik Soekarno.

Supersemar Mengubah Arah Kekuasaan Soekarno dan Soeharto

Mengungkap Akhir Hidup Soekarno: Dari Lengser hingga Dimakamkan di Blitar oleh Soeharto

Supersemar menjadi salah satu titik penting dalam perubahan kekuasaan Indonesia pada 1966. Soekarno menandatangani surat tersebut pada 11 Maret 1966 di Istana Bogor. Surat itu memberikan kewenangan kepada Letjen Soeharto untuk mengambil tindakan yang diperlukan demi menjaga keamanan pemerintahan. Soeharto kemudian menggunakan kewenangan tersebut untuk mengambil sejumlah langkah politik penting. Ia membubarkan PKI dan menyatakan organisasi tersebut sebagai organisasi terlarang. Soeharto juga menangkap sejumlah menteri Soekarno yang pemerintah curigai memiliki keterlibatan dalam G30S. MPRS kemudian mengukuhkan Supersemar melalui Tap MPRS No. IX/MPRS/1966. Langkah tersebut membuat posisi politik Soekarno semakin melemah. MPRS juga meminta Soekarno memberikan pertanggungjawaban mengenai kondisi nasional setelah G30S. Soekarno menyampaikan pidato Nawaksara pada 22 Juni 1966. MPRS menolak pidato tersebut karena menganggap isinya belum menjawab tuntutan pertanggungjawaban. Soekarno kemudian menyampaikan Pelengkap Nawaksara pada Januari 1967. MPRS kembali menolak laporan tersebut dan mengambil langkah politik terhadap kedudukan Soekarno.

Soekarno Tinggalkan Istana dan Jalani Pengawasan Ketat Hingga Akhir Hidup

Setelah MPRS mencabut status presiden seumur hidup dan melarang Soekarno memegang jabatan presiden pada 1967, ia meninggalkan Istana Negara. Soekarno kemudian tinggal di Istana Bogor bersama Hartini dalam pengawasan militer. Aparat membatasi pergerakannya sehingga ia tidak dapat bepergian secara bebas. Kondisi kesehatan Soekarno juga semakin memburuk pada periode tersebut. Tim dokter kepresidenan sebelumnya telah bubar sehingga akses perawatan medis menjadi persoalan bagi keluarga. Pada Desember 1967, Soekarno meninggalkan Istana Bogor dan pindah ke Wisma Yaso di Jakarta Selatan. Tempat tersebut kini dikenal sebagai Museum Satria Mandala. Selama tinggal di sana, aparat menjaga Soekarno dengan ketat dan membatasi komunikasi dengan dunia luar. Keluarga juga menghadapi kesulitan ketika ingin mengunjunginya. Hartini sempat meminta izin kepada Presiden Soeharto agar Soekarno dapat menjalani pemeriksaan kesehatan di Jakarta. Setelah keluarga melakukan pendekatan langsung, pemerintah membentuk tim dokter pada Oktober 1968. Tim tersebut kemudian merawat Soekarno di Wisma Yaso dengan pengamanan militer.

Kondisi Kesehatan Memburuk hingga Soekarno Meninggal Dunia

Kondisi kesehatan Soekarno terus menurun selama menjalani kehidupan dalam pengawasan ketat. Ia menghadapi sejumlah penyakit, termasuk batu ginjal, peradangan otak, gangguan jantung, dan tekanan darah tinggi. Soekarno juga masih menghadapi pemeriksaan terkait peristiwa G30S ketika kondisi tubuhnya semakin lemah. Pemeriksaan tersebut akhirnya berhenti setelah dokter Mahar Mardjono dan Rachmawati meminta keringanan. Pada awal Juni 1970, kondisi Soekarno memburuk sehingga keluarga dan dokter membawanya ke RSPAD Gatot Soebroto. Rumah sakit tersebut kemudian menjadi tempat Soekarno menjalani perawatan terakhir. Mohammad Hatta sempat mengunjungi sahabat sekaligus mantan wakil presiden tersebut ketika Soekarno menjalani perawatan. Pada 21 Juni 1970, Soekarno mengembuskan napas terakhir di RSPAD Gatot Soebroto. Ia meninggal dalam usia 69 tahun setelah melewati masa panjang penuh tekanan politik dan persoalan kesehatan. Jenazah Soekarno kemudian dibawa ke Wisma Yaso. Banyak masyarakat datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada tokoh proklamator tersebut sebelum keluarga membawa jenazahnya menuju Blitar.

Soeharto Pilih Blitar sebagai Tempat Pemakaman Soekarno

Pemakaman Soekarno di Blitar memiliki cerita tersendiri karena keputusan tersebut tidak sepenuhnya mengikuti keinginan pribadi sang proklamator. Pada 24 Mei 1965, Soekarno pernah menulis surat wasiat mengenai tempat pemakamannya. Ia menginginkan makam di bawah pohon rindang di Batutulis, Bogor. Keluarga Soekarno kemudian memperjuangkan keinginan tersebut setelah sang presiden wafat. Namun, Presiden Soeharto memilih Blitar sebagai lokasi pemakaman Soekarno. Soeharto mempertimbangkan kedekatan Soekarno dengan ibunya yang telah lebih dahulu dimakamkan di Blitar. Pada 22 Juni 1970, keluarga dan pemerintah membawa jenazah Soekarno menuju Blitar melalui Malang. Masyarakat memenuhi sejumlah ruas jalan untuk memberikan penghormatan terakhir ketika rombongan melintas. Antusiasme masyarakat menunjukkan besarnya penghormatan terhadap tokoh yang memainkan peran penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Soekarno kemudian menjalani upacara kenegaraan di Blitar sebelum keluarga dan pemerintah menempatkan jenazahnya di makam tersebut. Hingga kini, makam Bung Karno di Blitar menjadi salah satu tempat penting yang berkaitan dengan sejarah presiden pertama Indonesia.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *