Juru Kuliner – Kompleks Jackie Chan menyimpan panorama luar biasa, tetapi destinasi tsunami ini kini perlahan kehilangan pamornya. Kompleks Jackie Chan berada di kawasan Gampong Neuheun, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Kawasan ini memiliki sejarah erat dengan tragedi tsunami Aceh pada 2004. Pemerintah dan lembaga kemanusiaan membangun kawasan hunian tersebut untuk membantu para korban tsunami. Prasasti pada gerbang kompleks mencantumkan nama Kampung Persahabatan Indonesia-Tiongkok. Prasasti itu juga mencantumkan China Charity Federation dan Red Cross Society of China sebagai pihak pendukung pembangunan.
Masyarakat kemudian mengenalnya dengan nama Rumah Jackie Chan karena kabar mengenai keterlibatan aktor Asia tersebut dalam penggalangan dana. Kompleks ini berada di atas bukit dengan ketinggian sekitar 300 meter dari permukaan laut. Kawasan tersebut menyediakan sekitar 600 rumah tipe 42 untuk para penyintas tsunami. Awalnya, pengelola menyiapkan hunian bagi warga keturunan Tionghoa yang menjadi korban bencana. Namun, hanya sekitar 100 keluarga yang mendaftar. Pengelola kemudian mengalokasikan sekitar 500 rumah lainnya untuk warga pribumi. Kondisi itu menjadikan kompleks tersebut sebagai salah satu simbol pemulihan masyarakat Aceh setelah tsunami.
Kompleks Jackie Chan Pernah Menawarkan Panorama yang Memukau

Kompleks Jackie Chan tidak hanya menarik perhatian karena sejarahnya. Kawasan tersebut juga menawarkan panorama alam yang membuat banyak pengunjung betah menikmati suasana. Dari atas bukit, wisatawan dapat melihat hamparan Samudra Hindia dengan Pulau Sabang di kejauhan. Kapal yang melintas sesekali turut mempercantik pemandangan dari kawasan tersebut. Pada sisi lain, pengunjung dapat melihat perbukitan hijau serta kawasan Gampong Labui dan Gampong Lampineung. Jalan aspal yang berkelok dan menanjak menghubungkan blok-blok perumahan sehingga pengunjung dapat menjelajahi kawasan dengan santai. Kawanan monyet liar juga terkadang muncul dan mendekati orang yang melintas. Suasana malam menghadirkan daya tarik berbeda karena pengunjung dapat menyaksikan kerlap-kerlip lampu Kota Banda Aceh dari ketinggian. Pemandangan tersebut pernah menarik wisatawan sekaligus masyarakat lokal untuk datang dan mengabadikan momen. Bahkan, Tripadvisor sempat memuat ulasan mengenai objek tersebut pada 2018. Berbagai keunikan itu membuat kawasan hunian korban tsunami tersebut pernah memiliki potensi kuat sebagai destinasi wisata alternatif di Aceh.
Hunian Korban Tsunami Kini Mulai Kehilangan Daya Tarik

Kompleks ini mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Menurut keterangan Udo Edi, mantan sekretaris dan wakil ketua kompleks, sekitar 400 dari 600 rumah masih memiliki penghuni. Sementara itu, sekitar 200 rumah lainnya kini kosong dan tidak lagi menjalankan fungsi hunian. Kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas ekonomi dan pariwisata kawasan. Beberapa kafe warga yang dahulu melayani pengunjung kini tidak lagi beroperasi. Sejumlah rumah yang dahulu menarik perhatian karena posisi strategis juga mulai terbengkalai. Pada 2008, kawasan ini bahkan menarik perhatian karena beberapa rumah memiliki harga tinggi.
Rumah yang menghadap laut Sabang atau Kota Banda Aceh memiliki daya tarik tersendiri bagi pembeli. Pemandangan luas dari atas bukit menjadi salah satu alasan tingginya minat terhadap lokasi tertentu. Namun, kondisi pariwisata berubah setelah pandemi Covid-19 menghantam sektor perjalanan. Pembatasan perjalanan internasional turut mengurangi jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Aceh. Kurangnya promosi juga membuat masyarakat semakin jarang memasukkan kawasan ini dalam daftar tujuan wisata ketika mengunjungi Banda Aceh.
Mengapa Kompleks Jackie Chan Semakin Terlupakan?
Kompleks Jackie Chan menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan posisinya sebagai destinasi wisata sejarah tsunami. Pandemi memang memberikan dampak besar terhadap mobilitas wisatawan selama beberapa tahun. Namun, persoalan promosi juga menjadi faktor penting dalam penurunan popularitas kawasan tersebut. Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam memperkenalkan kembali destinasi yang menyimpan nilai sejarah dan panorama alam. Tanpa promosi yang konsisten, wisatawan baru akan kesulitan menemukan informasi mengenai kawasan ini. Kondisi akses informasi juga perlu mendapat perhatian karena wisatawan membutuhkan petunjuk yang jelas menuju lokasi.
Papan penunjuk arah pada persimpangan dapat membantu pengunjung menemukan kawasan dengan lebih mudah. Pemerintah juga dapat mengembangkan promosi digital melalui media sosial, situs pariwisata, dan berbagai platform perjalanan. Masyarakat setempat pun dapat mengambil peran melalui pengembangan usaha kuliner, kedai kopi, suvenir, dan jasa wisata. Langkah tersebut dapat menciptakan alasan baru bagi wisatawan untuk berkunjung. Dengan strategi yang tepat, kawasan hunian penyintas tsunami dapat kembali menarik perhatian tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai tempat tinggal masyarakat.
Potensi Wisata Sejarah dan Ekonomi Masyarakat Aceh
Pengembangan Kompleks Jackie Chan sebagai destinasi wisata dapat menghadirkan peluang ekonomi bagi masyarakat Gampong Neuheun. Pemerintah dapat mengajak warga menyusun konsep wisata yang menggabungkan sejarah tsunami, kehidupan masyarakat, dan panorama alam. Salah satu gagasan menarik dapat mengambil inspirasi dari kampung wisata warna-warni di sejumlah daerah Indonesia. Warga dapat mempercantik lingkungan dengan warna yang menarik tanpa mengubah karakter kawasan hunian. Pemerintah juga dapat membantu menyediakan papan informasi sejarah, area swafoto, jalur pejalan kaki, serta ruang usaha warga.
Informasi mengenai sejarah tsunami perlu mendapat porsi penting agar pengunjung memahami makna kawasan tersebut. Pengelola juga dapat menghadirkan tur singkat yang menjelaskan sejarah pembangunan hunian dan kehidupan para penyintas. Konsep tersebut dapat membuat wisatawan memperoleh pengalaman edukatif sekaligus menikmati panorama dari atas bukit. Kehadiran wisatawan kemudian dapat meningkatkan aktivitas usaha masyarakat sekitar. Warung, kedai kopi, produk kerajinan, dan jasa pemandu dapat memperoleh pelanggan baru. Dengan pengelolaan partisipatif, kawasan ini berpeluang kembali menjadi destinasi menarik sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat Aceh Besar.

