Easy Travel Asia – Tembok Hadrian menghadapi periode genting di Britannia Romawi ketika kekeringan melanda wilayah tersebut selama tiga tahun berturut-turut. Penelitian yang memanfaatkan data lingkaran tahun pohon ek kuno menunjukkan kondisi kering pada 364 hingga 366 M. Curah hujan selama musim tanam turun jauh dari rata-rata normal, sehingga pertanian menghadapi tekanan berat. Wilayah selatan Britannia biasanya menerima sekitar 51 milimeter hujan selama April hingga Juli pada periode 350 hingga 500 M. Namun, curah hujan hanya mencapai 29 milimeter pada 364 M, kemudian turun menjadi 28 milimeter pada 365 M dan naik sedikit menjadi 37 milimeter pada 366 M. Kondisi tersebut mengganggu pertumbuhan gandum spelt dan jelai yang membutuhkan air pada fase penting. Penurunan hasil panen kemudian mengurangi persediaan pangan dan mengganggu sistem distribusi gandum yang menopang masyarakat serta pasukan Romawi di Britannia.
Tembok Hadrian Kehilangan Dukungan Pangan dari Britannia

Tembok Hadrian bergantung pada sistem pangan dan logistik yang mampu menyediakan kebutuhan pasukan di perbatasan utara Britannia. Ketika kekeringan mengurangi hasil panen selama tiga tahun, pasokan gandum ikut mengalami tekanan. Para petani menghadapi kekurangan air ketika tanaman memasuki fase pertumbuhan penting pada musim semi dan awal musim panas. Penurunan hasil pertanian kemudian mengurangi jumlah bahan pangan yang dapat dikumpulkan melalui sistem administrasi Romawi. Kondisi tersebut juga mengganggu distribusi gandum kepada prajurit yang menjaga perbatasan. Pasukan Romawi menerima gandum sebagai bagian dari pembayaran sekaligus menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari. Ketika pasokan menuju kawasan utara menurun, para prajurit menghadapi situasi yang semakin sulit. Ammianus Marcellinus mencatat kelaparan berat serta pemberontakan pasukan di perbatasan. Prajurit yang menjaga wilayah tersebut akhirnya meninggalkan pos dan membuka peluang bagi bangsa Pict untuk menembus pertahanan utara Britannia.
Kekeringan Memicu Krisis Pertanian Britannia Romawi

Kekeringan tidak hanya mengurangi persediaan pangan, tetapi juga mengguncang fondasi ekonomi Britannia Romawi. Tanaman utama seperti gandum spelt dan jelai berbaris enam membutuhkan air dalam jumlah cukup ketika memasuki fase pembungaan. Curah hujan yang rendah selama tiga tahun membuat tanaman kesulitan berkembang secara optimal. Para peneliti menggunakan lingkaran tahun pohon ek untuk melihat kembali kondisi iklim pada masa tersebut. Pohon menyimpan jejak pertumbuhan melalui lebar lingkaran tahun yang berubah mengikuti ketersediaan air. Data tersebut menunjukkan pola kekeringan berturut-turut pada 364, 365, dan 366 M. Kondisi itu menciptakan tekanan besar bagi wilayah pertanian yang menjadi sumber pangan utama Britannia. Sistem Annona Romawi juga menghadapi persoalan karena administrasi membutuhkan hasil pertanian untuk mengumpulkan dan mendistribusikan gandum. Ketika hasil panen merosot, sistem tersebut kesulitan memenuhi kebutuhan masyarakat dan militer. Krisis pangan akhirnya memperbesar ketegangan sosial serta memperlemah kemampuan pemerintah menjaga stabilitas provinsi.
Pemberontakan Membuka Jalan bagi Bangsa Pict dan Penyerbu Tembok Hadrian
Krisis pangan kemudian bertemu dengan tekanan militer yang sudah mengancam Britannia Romawi. Bangsa Pict bergerak dari utara, Scotti datang dari wilayah barat, sementara bangsa Saxon menyeberangi laut menuju Britannia. Para penyerbu menemukan provinsi yang sudah kehilangan sebagian kekuatan militernya akibat persoalan pangan dan pemberontakan. Prajurit di kawasan perbatasan meninggalkan pos setelah menghadapi kondisi yang semakin sulit. Situasi tersebut memberi peluang bagi Pict untuk melewati pertahanan utara. Pada saat yang sama, serangan dari kelompok lain memperluas kekacauan di berbagai wilayah Britannia. Seorang komandan Romawi terbunuh, sedangkan Fullofaudes jatuh ke tangan lawan. Beberapa prajurit bahkan kemungkinan bergabung dengan kelompok penyerang. Selama sekitar dua tahun, kekuasaan Roma di Britannia mengalami kekacauan. Para jenderal Romawi berusaha memulihkan kendali, tetapi upaya mereka belum menghasilkan kestabilan. Kaisar akhirnya mengirim Theodosius the Elder bersama pasukan baru. Pada 369 M, ia berhasil memulihkan ketertiban di wilayah tersebut.
Iklim dan Konflik Saling Berkaitan dalam Sejarah Romawi
Penelitian tersebut juga memperluas analisis dari Britannia menuju wilayah Kekaisaran Romawi secara keseluruhan. Tim peneliti menganalisis 106 pertempuran yang berlangsung antara 350 dan 476 M. Hasil analisis menunjukkan hubungan statistik antara tahun-tahun kering dan peningkatan konflik. Banyak pertempuran muncul setelah periode dengan curah hujan rendah. Temuan itu tidak berarti kekeringan selalu langsung menyebabkan perang, tetapi kondisi lingkungan dapat memperbesar tekanan yang sudah ada dalam masyarakat. Britannia memberikan contoh ketika kekeringan bertemu dengan persoalan militer, politik, dan logistik. Ketika hasil pertanian menurun, pemerintah kesulitan menjaga pasokan pangan, sementara pasukan membutuhkan sumber daya untuk mempertahankan perbatasan. Kelompok penyerang kemudian memanfaatkan kelemahan tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertahanan seperti Tembok Hadrian tidak dapat berdiri sendiri. Pasukan membutuhkan pertanian, perdagangan, administrasi, dan logistik yang stabil agar pertahanan tetap berfungsi. Ketika sistem pendukung tersebut mengalami tekanan berulang, kemampuan Roma menjaga Britannia ikut melemah dan membuka ruang bagi konflik pada 367 M.

